Search
  • Admin

Kita adalah Murid Sekaligus Guru



Pernah mendengar gerakan #SemuaMuridSemuaGuru? Tulisan ini tidak akan membahas tentang gerakan baik tersebut. Tulisan ini adalah perspektif sederhana bagaimana seharusnya kita belajar dalam hidup.


Ada sebuah pesan menarik. Entah dari mana awalnya kutipan ini, tapi menarik untuk kita maknai. “Kita adalah guru sekaligus murid. Kadang kita belajar, kadang kita mengajar.”


Murid sekaligus guru. Guru sekaligus murid. Tentu ini bukan tentang peran di sekolah formal saja. Guru dan murid adalah peran dalam kehidupan.


Cara pandang kita yang keliru dalam memaknai peran guru atau murid akan membawa kita keliru di masa selanjutnya. Coba ingat-ingat kembali ketika masa sekolah formal. Berapa banyak yang bercita-cita ingin menjadi guru? Atau mungkin Anda, adakah punya cita-cita menjadi guru?


Bisa jadi jawabannya sedikit jika cita-cita guru dihubungkan hanya semata-mata dengan sosok yang kuliah di jurusan keguruan, lalu menjadi guru di sekolah, kampus, atau bimbel. Tapi bagaimana jika kita mencoba untuk lebih luas dalam memaknai cita-cita sebagai guru. Memaknai guru sebagai peran yang harus kita ambil.

Maksudnya?


Suami adalah guru bagi istrinya. Ibu adalah guru bagi anaknya. Kakak adalah guru bagi adiknya. Senior adalah guru bagi juniornya. Bos adalah guru bagi bawahannya.

Pola ini pun saja dibalik.


Istri adalah guru bagi suaminya. Anak adalah guru bagi ibunya. Adik adalah guru bagi kakaknya. Junuor adalah guru bagi seniornya. Bawahan adalah guru bagi bosnya.

Bagaimana bisa? Kembali ke pesan awal. Karena setiap dari kita adalah murid sekaligus guru. Kadang kita belajar, kadang kita mengajar. Karena kita tidak tahu tentang semuanya dalam hidup ini yang luas dan panjang ini.


Suami adalah guru bagi istrinya tentang menjadi pengarah visi keluarga. Istri juga guru bagi suaminya tentang kelembutan dan totalitas membersamai anak sejak dalam kandungan hingga dewasa.


Ibu adalah guru bagi anaknya tentang hampir segalanya dalam hidup. Anak juga menjadi guru bagi anak tentang hal yang mungkin khilaf oleh ibunya. Misalkan anak sulung yang menjadi “kelinci percobaan” hingga apa yang salah di kakak, tidak lagi terulang di adiknya.

Kita perlu memaknai ulang apa itu guru, murid, dan belajar. Karena jika kita keliru dan begitu sempit dalam memaknai kata sederhana ini, akan berakibat fatal nantinya. Enggan untuk bertumbuh, antipati dengan pendidikan, hingga lepasnya peran dan tanggungjawab dalam masyarakat.